Olimpiade eSport pada akhirnya dibatalkan. Meski awalnya direncanakan akan terselenggara pada tahun 2027, Komite Olimpiade Internasional (KOI) memutuskan untuk menghentikan sementara proyek tersebut di akhir tahun lalu… sebelum akhirnya membatalkannya sama sekali. Sebuah pukulan mengejutkan untuk sebuah inisiatif yang ingin mencatatkan sejarah.
Semua tampaknya berjalan lancar. Pembentukan Olimpiade eSports ini disetujui secara bulat dalam sesi ke-142 IOC, menjelang Asian Games 2024. Kemitraan selama dua belas tahun dengan Komite Olimpiade Arab Saudi bahkan merencanakan edisi perdana di Arab Saudi. Namun, setelah berbulan-bulan diam dan penundaan pertama, akhirnya proyek ini dihentikan secara "saling sepakat" dengan pihak Arab Saudi. Komisi yang khusus menangani eSports pun langsung dihentikan sementara.
Sejak menjabat sebagai presiden CIO pada bulan Juni, Kirsty Coventry menyatakan bahwa ia sedang dalam masa refleksi untuk menentukan langkah selanjutnya. Di balik layar, banyak perbedaan pendapat muncul: seberapa besar peran federasi olahraga tradisional? Apakah sebaiknya mengutamakan olahraga virtual yang mendekati disiplin fisik, atau mengintegrasikan game-game populer seperti League of Legends maupun Rocket League? Sulit mencari titik temu antara model Olimpiade dan eSports, yang lebih berpusat pada pengembang dan pemainnya.
Di pihak lain, Arab Saudi memilih untuk melangkah maju tanpa label Olimpiade dengan meluncurkan Piala Bangsa Esports sendiri. Ini membuktikan bahwa eSport tetap menunjukkan jalannya, meskipun tanpa cincin Olimpiade. Yang tersisa adalah menunggu apakah CIO akan kembali suatu saat dengan format baru… atau jika Olahraga Olimpiade versi gaming ini akan tetap sebatas proyek semata.
Halaman ini dapat mengandung elemen yang dibantu oleh AI, informasi lebih lanjut di sini.















