Kini identik dengan jubah hitam para pengacara, dengan persidangan, dan koridor-koridor berkarpet tebal di dunia peradilan, Palais de Justice Paris, yang berdiri megah di atas Île de la Cité, menyimpan sebuah masa lalu yang sangat berbeda. Sebelum menjadi pusat nadi kekuasaan yudikatif Prancis, kompleks sejarah raksasa ini pernah menjadi kediaman para raja Prancis, dan dengan tegas berdiri sebagai kastil benteng terbesar dan termegah château fort de Paris au Moyen Âge.
Bayangkan Louvre hari ini sebagai istana Paris yang paling ikonik, tetapi pada abad pertengahan, ia tidak bisa dibandingkan dengan Palais de la Cité. Di bawah pemerintahan Philippe le Bel, sekitar 1314, kompleks kerajaan di Île de la Cité, yang mencakup Sainte-Chapelle dan Conciergerie, membentang seluas hampir 4,5 hektar. Sebagai perbandingan, Louvre abad pertengahan pada waktu itu hanyalah sebuah benteng pertahanan persegi yang suram. Bahkan donjon de Vincennes, meskipun menakutkan, tidak dapat menandingi konsentrasi kekuasaan dan luas area yang dimiliki Cité.
Gigantisme ini masih terlihat hingga kini melalui bekas-bekas yang luar biasa. Salle des Gens d’Armes, terletak di bawah tanah Conciergerie, tetap menjadi ruang abad pertengahan terbesar yang dipertahankan di dunia di Eropa: panjangnya hampir 64 meter dan lebar 27 meter. Tak jauh di sampingnya, berdiri Sainte-Chapelle, mahakarya arsitektur yang dibangun oleh Saint Louis, menjulang lebih dari 42 meter. Keseluruhan kompleks itu membentuk sebuah kota pertahanan monumental, sebuah etalase politik dan arsitektur yang luar biasa.
Pada masa itu, kastil itu seperti kota dalam kota: tempat kediaman keluarga kerajaan, para pengiring istana, pasukan pelayan, dan lembaga-lembaga administratif pertama kerajaan. Raja-raja akhirnya meninggalkan situs itu setelah pemberontakan Étienne Marcel pada 1358, lebih memilih keamanan Louvre atau Hôtel Saint-Pol, meskipun mereka meninggalkan pemerintahan dan keadilan di sana. Kastil terbesar di Paris itu kemudian berubah nasibnya seiring berjalannya waktu dan pembangunan ulang, menjadi Istana Keadilan yang kita kenal sekarang.
Berbeda dengan Louvre, Palais de Justice tetap berfungsi sebagai pengadilan yang masih beroperasi. Jika akses ke monumen turis yang berdekatan seperti Sainte-Chapelle atau Conciergerie dilakukan melalui loket tiket konvensional, masuk ke Palais de Justice sendiri tunduk pada aturan keamanan yang sangat ketat.















