Di Paris, beberapa meja juga patut dicoba karena suasana di sekelilingnya... di sekitar piring!
Sebuah atap kaca bermotif tumbuhan di atas kepala, banquette yang membungkus, panel kayu berukir, mozaik warna-warni dan lampu-lampu geometris berukuran besar seringkali cukup untuk membawa kita kembali ke masa lalu.
Beberapa brasserie besar memang telah melintasi dekade dengan menjaga sebagian dekor asli mereka, kadang dilindungi sebagai Monumen bersejarah, sementara beberapa tempat kontemporer lainnya lebih suka bermain-main dengan warisan ini dan menafsirkan ulang pedoman dari dua gerakan seni yang berbeda. Tapi hati-hati, jangan sampai salah membedakan gaya keduanya!
Art Nouveau berkembang terutama antara tahun 1890-an dan awal dasawarsa 1910-an, dalam konteks Belle Époque. Lengkung, arabeska, bunga, daun dan garis yang terinspirasi dari dunia tumbuhan menandai gerakan ini yang berupaya membawa seni ke dalam keseharian. Di Paris, jejaknya juga terlihat di fasad dan pintu masuk metro maupun pada furnitur dan dekorasi beberapa kafe dan restoran.
Art Déco datang belakangan dan mencapai puncaknya pada tahun 1920-an dan 1930-an, terutama setelah Pameran Internasional Seni Dekoratif dan Industri Modern yang diadakan di Paris pada 1925. Lekuk-lekuk tumbuhan memberi ruang lebih bagi garis-garis geometris, bagi simetri, bagi motif-motif distilasi dan bahan-bahan berharga. Marmer, kuningan, kayu, kaca dan cermin turut berpartisipasi dalam estetika yang lebih terstruktur ini, terkait dengan era gemilang 1920-an dan suatu gambaran kemewahan modern.
Begitu juga, untuk makan malam berdua yang intim ala Roaring Twenties atau makan siang di bawah kaca atap Belle Époque, mari menuju restoran Art Déco dan Art Nouveau di Paris!
Temukan lokasi semua alamat tersebut dengan mengklik peta yang ada di bagian bawah artikel















